Tetes-tetes air langit,
jatuh ke permukaan bumi, menyelimuti malam yang sunyi. Tak ada keramaian orang
ataupun suara bising mobil kota, yang ada suara jangkrik berderik dan katak
berkeok, seperti ada sayembara di antara mereka.
Sebuah gubuk kecil di sudut desa
terlihat dari kejauhan. Disanalah keluarga kecil pak Aldi tinggal. Tempat dimana keluarga
kecil pak Aldi
berlindung dari terik panasnya matahari yang menyengat, dinginnya angin malam
dan terpaan badai disertai hujan yang turun.
Malam itu, keluarga kecil pak Aldi sedang menikmati indahnya malam
dengan bercerita tentang pengalaman Ogie di sekolahnya yang baru. Yups, Ogie
adalah anak pertama dari dua bersaudara. Walaupun adik belum lahir, tetapi usia
kelahiran ibu Litta,
sudah beranjak 9 bulan. Jadi, bolehlah kita anggap adik Ogie sudah lahir.
“Pak,
bu, tadi aku bertemu dan berkenalan
dengan beberapa teman baru. Ada yang namanya Agam, Vivi, Qonita, Ishma dan ada yang
namanya kayak orang bule, namanya Dulfin.” ujar Ogie sambil menggenggam
jari-jari mungilnya satu sama lain, seolah-olah menghitung teman-temannya yang
diajak berkenalan tadi.
“oh ya? baguslah, kalau begitu, tetapi ingat kamu juga
harus hati-hati sama teman-temanmu itu, siapa tau mereka mempunyai niat jahat
terhadapmu !” ucap ibu Litta menasehati.
“iya iyaa, tenang aja aku pasti akan jaga diri kok, dan
berhati-hati dengan mereka, kalau mereka punya niat jahat sebelum melakukannya
aku akan kerjain mereka duluan, biar mereka kapok.” sambil mengepalkan
tangannya, seakan-akan sedang melakukan pertandingan tinju kelas dunia.
“tapi, selain harus hati-hati kamu juga harus jadi anak
yang baik di sekolah ! jangan bandel ! kebiasaan di SD mu, yang suka ngobrol sana
sini jangan dibawa ke SMP. Kan masuk SMP Nusa Bangsa itu tidak mudah, butuh
perjuangan, kamu aja masuk SMP itu pakai beasiswa, kalau enggak kamu gak
bakalan bisa sekolah lagi habis lulus SD ini, makanya kamu harus banyak-banyak
bersyukur kepada Allah SWT supaya kamu d ridhoi oleh Allah, ok..” pak Aldi pun
ikut mengingatkan.
“yaudah, ibu mau ke dapur dulu ya, mau bikin teh buat
kalian berdua, cuacanya juga udah agak dingin nih,” ujar ibu Litta.
Ketika
Ogie dan pak Aldi sedang berbincang-bincang, tiba-tiba terdengar bunyi yang
mencekam “syuuuttt.... gubrak..”.
“astagfirullah, suara apa itu ? kedengarannya dari arah
dapur.” sahut Ogie tertegun.
Pak Aldi
dan Ogie pun langsung berlari ke arah dapur. Mereka pun terkejut, ternyata ibu Litta
terpeleset dan jatuh.
“Inalillah, ibu ada apa ini ? aduh, air ketuban ibu sudah
pecah, Ogie kamu panggil mbok Siska, biar ibu di tanganin secepatnya, ayo
cepat..” suruh pak Aldi.
Ogie pun
pergi memanggil mbok Siska. Selagi Ogie memanggil mbok Siska, pak Aldi pun langsung
membawa ibu Litta ke kamar dan langsung membereskan tempat tidurnya untuk
proses kelahiran adik Ogie.
Sesampainya Ogie di rumah mbok Siska,
Ogie pun langsung memberitahu mbok Siska tentang ibunya.
“mbok Siska, mbok Siska
... tolong ibu mbok, ibu mau melahirkan adikku..“ ujar Ogie panik.
“apa ? ibumu mau
melahirkan? yasudah, ayo cepat kita ke rumahmu sebelum air ketubannya pecah, eh
maksud mbok sebelum terlambat.” jawab mbok Siska sambil membereskan
perlengkapan untuk proses persalinan ibu Litta.
Sesampainya di rumah, Ogie pun
langsung mempersilahkan masuk mbok Siska, agar secepatnya ibunya melakukan
proses persalinan.
“pak, ini mbok Siskanya,”
sahut Ogie.
“yaudah, langsung
aja mbok, tolong istri saya. Ogie lebih baik kamu tunggu di luar saja !” ujar
pak Aldi. Tanpa pikir panjang, Ogie pun langung meninggalkan ruangan itu.
13 tahun kemudian......
“Cici.. tunggu aku..” teriak Tiwi.
“iya.. aku tungguin, sekalian benerin tali sepatu nih,”
jawab Cici. Tiwi pun berlari sekencang-kencangnya menuju tempat Cici berada.
“ayo kita berangkat... kok tali kuciran kamu warna ungu?
Bukannya disuruh warna biru ya? Aku pakai warna biru nih,” tanya Tiwi.
“mungkin setiap kelas MOS berbeda... soalnya si Yusti
bilang, dia pakai pita warna PING, hahahah ..”jelas Cici sambil membayangkan
Yusti si anak tomboy, memakai pita warna ping, pasti menggelikan... hihihi...
“Ting... Ting... Ting... kepada
seluruh siswa kelas 8 & 9, serta seluruh peserta MOS, harap menuju Lapangan
Upacara karna akan di adakan Upacara penerimaan siswa dan siswi baru, sekali
lagi kepada seluruh siswa kelas 8 & 9, serta seluruh peserta MOS, harap
berkumpul di Lapangan Upacara karna akan diadakan Upacara penerimaan siswa dan
siswi baru. Terima kasih“seru pengurus OSIS yang berjaga ditempat itu. Para
siwa dan siswi SMP Bina Nusa pun, segera menuju Lapangan Upacara.
30 menit berlalu......
Upacara pun selesai. Seperti biasa,
anak kelas 8 & 9 tetap di tempat untuk menunggu pembagian kelas. Para
peserta MOS pun pergi menuju kelasnya masing-masing, untuk di beri pengarahan.
“Hay adik-adik baru kakak, kakak mau perkenalan nih, nama
kakak Ghinia Malinda Aurelina, panggil saja, dengan sebutan kak Ghini. Ini
disebelah kakak namanya Lailania Tsanatha Liladha, panggil saja kakak ini
dengan sebutan kak Ila, Ok...” Ucap ramah kak Ghini perkenalan. Mereka semua
yang ada di ruangan itupun saling berkenalan.
“Ting... Ting... Ting...” bel
istirahat pun berbunyi. Para siswa pun beristirahat termasuk para peserta MOS.
Di sudut sekolah, Tiwi duduk berpangku tangan sambil menahan lapar karna uang
jajannya yang kurang.
“Hay, apa kabar ? bolehkah aku menemanimu disini? Oh iya,
aku Irma, namamu siapa?”tanya seorang anak perempuan yang manis.
“oh iya, alhamdulillah baik, boleh kok, boleh banget
malah, aku Tiwi.”jawab Tiwi gugup bercampur rasa bingung. Mereka berdua pun
berbincang-bincang sampai akhirnya bel masuk pun berbunyi.
Berjam-jam pun berlalu. Tiba saatnya
pulang sekolah.
“assalamu’alaikum, ibu...?” ucap Tiwi ketika dia sampai
di depan rumah.
“bu...? apa ibu ada di dalam rumah ?”tanya Tiwi ketika ia
sudah masuk kedalam rumah dan menyadari bahwa seperti tak ada orang dirumah.
Tiwi pun pergi ke dapur untuk
mengambil minum. Tiba-tiba, Tiwi melihat ibunya pingsan tak berdaya di dapur.
“astagfirulloh, ibu.. ibu... sadar bu...”ujar Tiwi panik
sambil mengoyang-goyangkan tubuh ibunya yang pingsan itu.
Tiwi
langsung membawa ibunya menuju kamar. Beberapa saat kemudian, ibu Litta pun
sadar.
“Ibu, tadi ibu kenapa? Kok tergeletak pingsan di ubin?”
tanya Tiwi cemas sambil memegang tangan ibunya.
“enggak kok, ibu gak kenapa-kenapa, tadi kepala ibu
sakit, tiba-tiba jatuh dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya, dan saat ibu
sadar, ibu melihat kamu .” jawab ibu Litta sambil mengelus kepala Tiwi.
“mungkin ibu kelelahan, makanya ibu jangan di paksain
kerja terus-menerus, kalau udah lelah, ibu langsung istirahat,”ujar Tiwi
mengingatkan.
“bagaimana ya, kabar bapak dan kak Ogie di Jakarta?”tanya
Tiwi kepada ibunya.
“mudah-mudahan baik-baik saja, biar bisa dapat uang
banyak, dan bisa membenarkan atap kita yang bocor.”jawab ibu Litta tersenyum.
* * *
Berbulan-bulan pun berlalu. Tiwi dan
ibu Litta kini sering menelpon pak Aldi dan Ogie yang ada di Jakarta. Mereka
sering memendam rasa rindu yang mendalam.
* * *
Suatu
hari, ketika Tiwi ingin berangkat sekolah, ia tak sengaja menyenggol kalender
yang ada di meja belajarnya. Ia pun langsung mengambil kalender itu. Ketika
sedang mengambil kalender itu, tak sengaja ia teringat akan ulang tahun ibunya.
“astagfirulloh, tanggal 12 Juni kan ibu ulangtahun,
sedangkan sekarang tanggal 2 Juni, jadi ulang tahun ibu 10 hari lagi, apa yang
akan aku berikan ke ibu? aku saja, belum ngumpulin uang buat beliin ibu hadiah.
Hmmm...” pikir Tiwi.
‘Tok..
Tok.. Tok..’ tiba-tiba pintu kamar Tiwi berbunyi.
“Nak, Yusti dan Cici menunggu kamu tuh didepan, kamu
kangan membuat orang lain menunggu, kan gak baik. Ayo, cepat keluar, jangan
didalam kamar terus !”perintah ibu Litta.
“iya bu, ini bentar lagi, tinggal masukin pulpen ke dalam
tas,” sahut Tiwi.
Mereka
bertiga pun berangkat menuju sekolah bersama. Di perjalanan, Tiwi bercerita
soal ibunya yang 10 hari lagi berulang tahun.
“teman-teman, ternyata ibuku 10 hari lagi berulangtahun,
aku tak tahu mau memberi kado apa kepada ibuku..”cemas Tiwi.
“Ha? Yang benar? Hmmm... ibumu suka apa?”tanya Yusti.
“ayahnya Tiwi lah, siapa lagi? Aneh-aneh aja kamu
ini..!”celetuk Cici.
“ih, kamu tuh yang aneh. Maksudku, ibunya Tiwi suka sama
barang apa, bukan siapa ! kalau itu sih, aku juga tau siapa yang ibunya Tiwi
suka, yah pasti ayahnya Tiwi lah, siapa lagi..”gerutu Yusti.
“Oh, barang.. sorry, aku kira, siapa. Hehehe..”sahut
Cici.
“sudah-sudah, jangan bertengkar. Apa ya yang di sukai
ibu? oh iya, waktu itu ibu pernah bilang, ibu mau kalung yang ada di toko
‘Jewelry’. Itu loh, yang kalung warna putih.”jawab Tiwi.
“oh, kalung itu, yaudah kita beli saja kalungnya, lalu
kita kasih deh ke ibumu.”usul Yusti yang dari tadi cemberut.
“kamu sih, enak aja ngomong gitu, lalu uangnya dari mana?
mencuri? ah, aku gak mau ikut-ikutan nanti dosa..” jawab Tiwi.
“tenang, aku nanti minta mama dan papaku untuk beli
kalung itu, “usul Yusti lagi.
“enggak ah, aku gak mau beli kalung itu kalau bukan hasil
jerih payahku, percuma dong kalau kalung itu aku beri ke ibuku bukan hasil
jerih payahku, itu berarti bukan aku yang beri, tapi mama dan papamu, jadi aku
gak setuju.”jawab Tiwi.
Mereka bertiga pun terdiam.
“gimana, kalau kita jualan saja, misalnya jualan kue atau
semacamnya gitu ?”usul Cici yang dari tadi diam memecahkan keheningan.
“wah, ternyata idemu OK juga, bagaimana menurutmu
Tiw?”tanya Yusti yang kali ini sependapat dengan Cici.
“Ya, aku setuju, tapi... apa yang akan kita jual?”tanya
Tiwi.
“Kita bisa menjual cake, kebetulan bahan-bahan cake
dirumahku banyak yang tidak terpakai, kita bisa menggunakannya untuk membuat
cake. Sesudah itu, kita jual deh ke anak-anak yang ada di sekitar rumahku,
pasti mereka suka.”usul Yusti.
“ok, sehabis pulang sekolah, kita kerumah Yusti untuk
membuat cake bersama.”sahut Cici. “Ok, aku setuju banget ide ini, J.”jawab Tiwi.
“sepertinya, kita sudah sampai, ayo turun...”ujar Cici.
Mereka
bertiga pun ketika sekolah, selalu pergi
ke rumah Yusti untuk membuat cake. Mereka berjualan cake setiap hari untuk
memenuhi uang yang akan di belikan kalung untuk ibunya Tiwi. Tiba saatnya ibu
Tania berulangtahun.
“teman-teman, sepertinya uangnya kurang deh, soalnya
setahuku kalung itu berharga Rp.650.000,00. sedangkan uang yang kita miliki
hanya Rp.450.000,00.”ujar Tiwi sedikit kecewa.
“yaudah, kamu pakai saja uangku dulu,” sahut Yusti
menenangkan. “ok, tapi nanti akan aku ganti kok tenang aja,” jawab Tiwi.
“tidak diganti juga tidak apa-apa kok, tapi, kalau kamu
mau uang itu diganti juga gak papa,”ujar Yusti. “yaudah, mari kita pergi ke
toko ‘Jewelry’ nanti telat lagi.” sahut Cici yang dari tadi terdiam.
“Makasih ya, teman-teman, berkat kalian hadiah ini dapat
terkabul.” Tiwi pun memeluk teman-temannya.
“Iya, kita kan teman, jadi harus saling membantu.”ujar
Cici.
“oh iya, tolong pegangin dong kalnungnya, aku mau ngiket
tali sepatu nih, kalian duluan aja, nanti aku nyusul” ujar Tiwi.
“yaudah, kita duluan ya.. hehe..”Yusti dn Cici pun berlari dan mengumpat seakan sedang
bermain petak umpat.
“Hey.. jangan lari kalian, awas loh akan aku tangkap
kalian...”ujar Tiwi setelah mengikat sepatunya.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan melaju sangat cepat dan
‘Tin.. Tin.. Duarrrr...’. “Tiwiiiiiii.........” teriak Yusti dan Cici histeris.
Tiwi pun segera dilarikan ke Rumah Sakit.
* * *
“Tiwi, kamu udah sadar?” sahut seseorang didalam ruangan
itu.
“Aku ada dimana?” tanya Tiwi.
“Tadi kamu tertabrak sebuah mobil sedan dan kami segera
membawa kamu ke rumah sakit” jawab Yusti.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, ternyata ibu Tania
datang menemui anaknya.
“Tiwi, kamu enggak apa-apa kan, nak?”tanya ibu Litta
sambil memeluk dan mencium kening Tiwi.
“Ibu kira, ibu akan kehilangan kamu,” sambung ibu Litta
sambil menitikan air mata.
“iya bu, aku gak
papa kok,” jawab Tiwi tersenyum senang.
“oh iya, tante ini ada hadiah dari Tiwi, sebelum kejadian
itu terjadi, Tiwi menitipkan ini padaku,”ujar Yusti sambil menyodorkan kotak
kecil berisikan kalung yang di beli Tiwi.
“Apa ini nak? Ibu buka ya,”jawab ibu Litta sambil membuka
isi kotak kecil itu.
Ibu Litta pun terkejut, ternyata kalung yang selama ini
diidam-idamkannya menjadi hadiah terindah untuknya.
“Selamat ulang tahun ya bu, maaf, aku hanya bisa
memberikan ini..” ujar Tiwi.
“Kamu selamat juga ibu udah senang, makasih ya sayang,
ibu sayang kamu.” ujar ibu Litta. “Aku juga sayang ibu” sahut Tiwi.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lagi.
“selamat ulang tahun, ibu...” sahut lelaki paru baya yang
ada di balik pintu. Ya, ternyata pak Aldi dan Ogie datang sambil membawa kue
ulangtahun ibunya.
“Bapak..? Ogie...? kalian pulang?” ibu Litta pun langsung
memeluk bapak dan Ogie.
“dari mana kalian tahu kalau kami ada di sini?” tanya
Tiwi.
“tentunya dari Yusti dan Cici yang sms ke kakak kamu ini.”
jawab pak Aldi.
“Makasih, atas hadiah ini, kita sudah kumpul kayak gini
juga sudah cukup buat ibu.”ujar ibu Litta. Mereka semua yang ada di ruangan itu
pun tersenyum bahagia.
TAMAT





Posting Komentar - Back to Content