“Alhamdulillah
sampai juga”. “Ternyata rumahku yang baru ini lumayan juga, mirip seperti rumah
lama ku”. Begitulah sesampai aku di rumah baruku di Bogor . Aku pun langsung memasuki rumah itu
dan langsung membereskan barang-barang ku untuk di masukan ke dalam kamar baru
ku. “Mah, aku ingin istirahat dulu ya, badanku lelah nih. Seharian penuh kita
melakukan perjalanan.” Ucapku setelah membereskan barang-barang ku.
Pagi
hari, aku ingin mengenal lebih dalam lingkungan baru yang ada di dekat rumahku.
Aku pun pamit kepada orang tua ku untuk pergi ke luar rumah. ”Mah, pah, aku
pergi ke luar rumah dulu ya, aku ingin mengenal lingkungan baru ini.” Pintaku.
”Iya, sayang tapi jangan terlalu jauh ya mainnya.” Jawab mamah ku. ”Iya mah...
Kalau begitu Assalamu’alaikum.” Pamitku. ”Wa’alaikumsalam.” Jawab mamahku. Aku pun pergi meninggalkan rumah. Aku pergi ke taman.
Sesampainya
di sana, aku bertemu seorang anak perempuan seumuranku. Dia pun bertanya
padaku, ”Hay, sepertinya aku belum pernah bertemu denganmu, kamu anak baru ya
di sini ?” Tanya nya padaku. ”Oh ya, memang aku baru di sini. Tadi malam baru
saja aku sampai ke sini.” Jawabku. ”Oh... Pantas saja, namaku Nadia
titania tunggal, oh iya namamu siapa ?” Tanya anak perempuan tadi. ”Namaku Karina eka loniza, oh iya senang
berkenalan denganmu, Nadia.” Jawabku. ”Oh iya aku juga senang berkenalan
denganmu, Karina.” Ujarnya. ”Nadia, kamu sudah lama tinggal di daerah ini ?”
Tanyaku. ”Oh tentu saja. Orang tuaku asli orang sini.” Jawabnya. ”Kalau begitu
kamu tahu banyak dong tentang lingkungan ini ? Kalau tidak keberatan, apa boleh
aku meminta kamu untuk menemani aku keliling komplek ini ?” Pintaku. ”Dengan
senang hati.” Setuju Nadia. Mereka berdua pun pergi jalan bersama.
Keesokan
harinya, aku mulai pergi sekolah ke sekolah baruku. ”Teng...teng...teng...” Terdengar bunyi lonceng sekolah pertanda masuk kelas. Anak-anak pun masuk
ke kelasnya masing-masing. Aku pun juga masuk ke ruang kelasku yaitu ruang
kelas 5.
Sesampai
di kelas, aku pun mencari tempat yang kosong. Aku pun menemukannya. Tempat
duduk itu bersebelahan dengan anak perempuan yang kemarin aku temui di taman
komplek. ”Hay, ternyata kita bertemu lagi.” Sapa ku. ”I...Iya... ternyata kita
bertemu lagi di sekolah dan kelas yang sama.” Jawabnya gugup. ”Mengapa kamu
menjawabnya gugup ?” Tanyaku dengan penuh keheranan. ”Oh tidak kok, tidak
apa-apa.” ujarnya gugup. Ibu guru pun masuk kelas. ”Anak-anak, kita kedatangan
murid baru, silakan kamu memperkenalkan diri...!” Suruh Ibu guru. Aku pun
memperkenalkan diri kepada teman-teman baruku. Sesudah aku memperkenalkan diri,
aku pun di persilahkan duduk oleh Ibuguru. Tampak ada seorang siswi berkata
pada teman sebangkunya, ”Ih, anak baru itu kok mau ya duduk sama orang
penyakitan kaya Nadia itu ?”Ujarnya ke teman sebangkunya. ”Iya ya, padahal kan
masih banyak kursi yang kosong.” Jawab temannya. Aku pun bingung dengan
perkataan siswi tadi yang menyatakan bahwa Nadia itu penyakitan.
”Teng..Teng..”
Bel istirahat pun berbunyi anak-anak pergi ke kantin untuk membeli sesuatu. Aku
juga pergi tetapi, aku pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku yang nanti di
ajarkan. Aku mengajak Nadia, tetapi Nadia menolaknya. Aku pun tidak mengerti
apa yang sebenarnya terjadi. Aku terus mencoba untuk merayu Nadia supaya bisa
pergi ke perpustakaan bersamaku. Tiba-tiba Nadia berlari ke toilet. Aku pun
heran dengan sikap Nadia seperti ini. Setahuku, Nadia adalah anak yang periang.
Tetapi berbeda dengan Nadia yang sekarang. Aku pun
mengejar Nadia ke toilet. Sesampai aku tiba di sana, aku telah menemukan Nadia
sedang mencuci tangannya. Aku pun lega melihat itu. Tetapi
beberapa saat kemudian, aku melihat Nadia memuntahkan darah dari mulutnya. Aku
pun terkejut. Aku menghampiri Nadia, lalu berkata : ”Nad, kamu kenapa ? Aku
lapor bu Susana ya, agar kamu di bawa ke Rumah sakit takut terjadi apa-apa.”
Ujarku. ”Karina, tidak usah. Aku tidak apa-apa kok. Lagian ini hanya muntah
biasa.” Pinta Nadia. Tiba-tiba Nadia pun memuntahkan darah kembali. ”Hah ? Kamu
bilang ini hanya muntah biasa ? Nadia, kamu harus di bawa ke Rumah sakit agar
kamu bisa di tangani dokter. Ini adalah penyakit serius...!” Pintaku. Beberapa
saat kemudian Nadia pingsan seketika. Aku pun langsung memberi tahu ibu Susana.
Nadia pun langsung di bawa kerumah sakit untuk di rawat secara Intensif di
rumah sakit.
Setelah
pulang sekolah, Aku pun memberi tahu mamahku kalau teman baruku masuk Rumah
sakit. ”Mamah... Temanku Nadia, masuk rumah sakit. Kita harus ke sana
sekarang.” Ajak Karina. ”Hah ? Nadia temanmu di taman itu ? Ya ampun memangnya
sakit apa dia ?” Tanya mamahku. ”Aku juga belum tahu pasti, tapi yang penting
kita harus ke sana sekarang...!” Ujarku.
Sesampainya
di rumah sakit, aku dan mamahku langsung menuju tempat informasi. ”Suster,
pasien yang bernama Nadia titania tunggal di rawat di mana ya ?” Tanyaku. ”Iya
sebentar ya dik, saya cari dulu. oh iya Nadia titania tunggal berada di Ruang
ICU.” Jawab suster itu. ”Kalau begitu terima kasih ya sus..” Ujar mamahku. Aku
dan mamahku pun langsung menuju kamar itu.
Sesampainya
di sana, aku melihat seorang wanita yang menangis di depan Ruang ICU. ”Tante,
tante mamahnya Nadia ya ?” Tanyaku. ”Iya, Be..Benar. Adik ini siapa ya ?” Jawab
Wanita itu. ”Maaf tante, aku temannya Nadia.” Jawab ku. Dokter pun keluar
sesudah memeriksa Nadia. ”Dok, Bagaimana keadaan anak saya ?” Tanya mamah
Nadia. ”Keadaan anak ibu menghawatirkan.” Jawab Dokter itu. ”Apakah saya boleh
melihatnya ?” Tanya mamah Nadia. ”Tentu saja boleh, silakan...” Jawab dokter
itu sambil mempersilahkan masuk. Sesudah masuk mamah Nadia pun langsung
menghampiri Nadia, lalu mamah Nadia mengecup kening Nadia. Mamah Nadia pun
keluar dari ruangan itu. ”Karina, mamah mau menenangkan mamah Nadia dulu ya,
kamu di sini saja temani Nadia.” Ucap mamahku. ”Iya mah...” Jawabku. Mamah pun
pergi meninggalkan ruangan itu. Di sana hanya ada aku dan Nadia.
Tiba-tiba
Nadia pun sadar. Aku pun bertanya pada Nadia : ”Nadia, memangnya kamu sakit apa
sih sehingga kamu muntah darah gitu ?” Tanya ku. Dengan kepercayaan Nadia
terhadap Karina, Nadia menjawab : ”Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa. Karina, Aku sekarat. Aku sakit kanker otak. Dan dokter bilang umurku tidak
akan lama lagi.” Jawab Nadia dengan penuh keberanian. ”Apa ?” Karina pun terkejut mendengar itu. ”Karina, aku ingin meminta sesuatu dari
kamu. Apakah kamu bersedia menerimanya ?” Tanya Nadia. ”Apapun akan ku lakukan
demi kamu. Walaupun kita baru kenal beberapa hari, aku sudah menganggapmu
seperti sahabat.” Ujar Karina. ”Apa kamu mau menemaniku di saat-saat terakhirku
?” Tanya Nadia. ”Apapun ku lakukan untukmu.” Ujarku
dengan penuh rasa sedih karna tidak terbayang teman baruku itu akan pergi untuk
selamanya tidak lama lagi. Setelah Karina berjanji, Karina selalu menemani
Nadia di saat-saat terakhir Nadia, yang sebenarnya mereka tidak menyadari kalau
kondisi Nadia mulai ada peningkatan. Bahkan penyakit Nadia tidak ada lagi dalam
diri Nadia.
Tiba
waktunya Nadia di periksa dokter. Nadia pasrah atas apa yang akan di terimanya
nanti. Sungguh alangkah bahagianya. Penyakit Nadia tidak ada di tubuh Nadia lagi.
Itu semua mungkin berkat kerja keras Karina menjaga Nadia. Mereka berdua pun
akhirnya menjadi sepasang sahabat yang tidak akan terhapus waktu. Oleh sebab itu, jika kita mempunyai sahabat, kita tidak boleh
menyia-nyiakan sahabat kita itu, karna mereka yang akan menemani kita di saat
sedih maupun senang.
TAMAT


Posting Komentar - Back to Content